Yogyakarta–Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim peneliti dari Rusia berhasil menghasilkan data baru yang berpotensi memperkuat pengembangan radioisotop skandium untuk kebutuhan diagnosis dan terapi kanker. Temuan ini membuka peluang optimalisasi produksi radioisotop medis yang menjadi komponen penting dalam pengobatan kanker berbasis kedokteran nuklir.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Lutfi A. Hasnowo, dosen Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN, bersama sejumlah peneliti dari Tomsk Polytechnic University, Rusia. Fokus penelitian adalah mengukur fungsi eksitasi produksi radioisotop skandium melalui reaksi nuklir partikel alfa pada target kalsium alami hingga energi 25 MeV. “Data yang diperoleh digunakan untuk menghitung efisiensi produksi radioisotop sekaligus menentukan kondisi energi yang paling optimal dalam proses pembentukannya,” jelas Lutfi, Senin (1/6).
Menurutnya, radioisotop Skandium-47 (⁴⁷Sc) memiliki prospek besar sebagai agen terapi kanker karena mampu memberikan efek terapeutik langsung pada jaringan target dengan dampak minimal terhadap jaringan sehat. “Radioisotop skandium sangat menjanjikan untuk pengembangan theranostics, yaitu pendekatan yang menggabungkan diagnosis dan terapi dalam satu sistem pengobatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bahwa dalam konsep theranostics, radioisotop diagnostik seperti Skandium-43 (⁴³Sc) dan Skandium-44 (⁴⁴Sc) digunakan untuk pencitraan medis melalui emisi positron, sementara Skandium-47 berfungsi sebagai radioisotop terapi yang memancarkan partikel beta negatif. Kombinasi ini memungkinkan dokter mendeteksi sekaligus menangani kanker secara lebih tepat sasaran.
Melalui penelitian tersebut, tim berhasil memperoleh data penampang lintang reaksi nuklir dan yield produksi sejumlah radioisotop skandium, antara lain ⁴³Sc, ⁴⁴Sc, ⁴⁶Sc, dan ⁴⁷Sc. Data ini menjadi dasar penting untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengurangi terbentuknya impuritas selama proses produksi radioisotop. Eksperimen dilakukan menggunakan fasilitas siklotron di Tomsk Polytechnic University dengan metode stacked target activation dan analisis spektrometri gamma resolusi tinggi. Pendekatan tersebut memungkinkan pengukuran parameter reaksi nuklir secara akurat selama proses iradiasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data baru yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk optimasi produksi radioisotop medis, peningkatan analisis keselamatan radiasi, serta penyempurnaan model perhitungan reaksi nuklir yang digunakan dalam berbagai aplikasi kedokteran nuklir.
Lutfi menegaskan bahwa ketersediaan data eksperimental yang akurat merupakan faktor krusial dalam pengembangan radiofarmaka berbasis radioisotop skandium. “Selama ini data produksi radioisotop skandium melalui reaksi partikel alfa pada target kalsium alami masih terbatas. Karena itu, pengukuran baru diperlukan untuk meningkatkan keandalan proses produksi. Kami berharap data yang dihasilkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan radioisotop medis di berbagai fasilitas akselerator partikel di dunia,” katanya.
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi, yaitu Radiation Physics and Chemistry Volume 227 Tahun 2025 dengan judul Excitation Functions for Sc Radioisotopes Production via (α,x) Nuclear Reactions on Natural Calcium up to 25 MeV. Publikasi ini diharapkan dapat memperkuat pengembangan radioisotop dan radiofarmaka untuk mendukung diagnosis dan terapi kanker yang lebih efektif di masa depan. (frw/ed:tek,ugi)
Sumber: BRIN - Terobosan BRIN: Data Baru Radioisotop Skandium Perkuat Pengobatan Kanker Berbasis Nuklir