Yogyakarta – Humas Poltek. Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) menerima audiensi tim Direktorat Pengukuran dan Indikator Riset, Teknologi, dan Inovasi (PIRTI), Deputi Kebijakan Riset dan Inovasi (DKRI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di KSTE A. Baiquni, Babarsari, Kamis (13/8).

Audiensi tersebut merupakan bagian dari penyusunan rekomendasi kebijakan Tinjauan ke Depan Riset, Teknologi, dan Inovasi Ketenaganukliran Nasional. Kegiatan ini bertujuan menghimpun masukan dari para pemangku kepentingan terkait perkembangan dan arah masa depan riset, teknologi, dan inovasi ketenaganukliran di Indonesia.

Poltek Nuklir dalam audiensi tersebut diwakili oleh Sutanto, Anhar Antariksawan, dan Bhidari Pidhatika. Sementara itu, tim PIRTI BRIN terdiri atas Yusrial Bachtiar, Wahyudin, dan Elrade Rofaani.

Dalam sambutannya, Yusrial Bachtiar menjelaskan bahwa penyusunan kajian saat ini telah memasuki tahap pemetaan. Tahap berikutnya adalah mengonfirmasi hasil pemetaan kepada para pemangku kepentingan.

“Saat ini kita telah sampai pada fase pemetaan. Dari hasil pemetaan yang telah disusun, tahap selanjutnya adalah melakukan konfirmasi kepada stakeholder,” ujar Yusrial.

Menurutnya, proses konfirmasi menjadi tahapan penting untuk memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai kondisi saat ini dan proyeksi masa depan ketenaganukliran nasional. Masukan dari berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat melengkapi identifikasi peluang, tantangan, serta faktor-faktor yang dapat memengaruhi perkembangan riset, teknologi, dan inovasi ketenaganukliran.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dan diskusi mengenai isu-isu strategis ketenaganukliran nasional. Pembahasan mencakup peluang pengembangan teknologi, penguatan ekosistem inovasi, kebutuhan sumber daya manusia, serta berbagai faktor pendorong perubahan (drivers of change) yang perlu diperhatikan dalam penyusunan arah kebijakan masa depan.

Anhar Antariksawan dalam diskusi tersebut menyoroti potensi pemanfaatan teknologi nuklir, baik pada sektor energi maupun nonenergi. Menurutnya, aplikasi nuklir di sektor nonenergi memiliki manfaat yang besar dan perlu terus dikembangkan untuk memberikan kontribusi terhadap berbagai sektor pembangunan.

“Aplikasi energi menjadi prioritas, hanya saja risikonya besar dan juga ada unsur politik,” papar Anhar.

Ia mencontohkan pemanfaatan teknologi nuklir di bidang kesehatan yang memiliki potensi besar. Berbeda dengan pemanfaatan energi nuklir yang masih menghadapi berbagai pandangan dan penolakan, aplikasi nuklir untuk kesehatan dinilai memiliki tingkat penerimaan yang lebih baik.

“Siklotron untuk produksi PET CT sudah banyak rumah sakit yang tertarik untuk membangun dan memanfaatkan,” terang Anhar.

Selain kesehatan, Anhar juga menekankan peluang pemanfaatan teknologi nuklir pada sektor pertanian, khususnya dalam meningkatkan mutu produk dan mendukung penanganan pascapanen. Salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan adalah irradiator gamma untuk proses preservasi.

“Menjaga hasil panen agar tidak cepat busuk dan memperoleh manfaat dari kondisi pascapanen membutuhkan preservasi. Kita dapat memanfaatkan irradiator gamma,” ujar Anhar.

Pemanfaatan teknologi tersebut, lanjut Anhar, dapat membantu mengendalikan mikroorganisme sehingga produk hasil pertanian dapat memiliki daya simpan yang lebih panjang.

Pada kesempatan yang sama, Anhar juga menekankan pentingnya hilirisasi teknologi nuklir yang telah tersedia serta penguatan kembali fasilitas produksi radioisotop. Menurutnya, ketersediaan radioisotop menjadi salah satu aspek yang penting untuk mendukung pemanfaatan teknologi nuklir, terutama di bidang kesehatan.

Sementara itu, Wakil Direktur Bidang Akademik Poltek Nuklir, Sutanto, menyampaikan komitmen Poltek Nuklir dalam menyiapkan sumber daya manusia di bidang ketenaganukliran, khususnya tenaga teknis dan tenaga terampil.

“Poltek Nuklir berkomitmen dalam penyediaan SDM, terutama tenaga teknis atau tenaga terampil. Akan tetapi, BRIN perlu merekomendasikan penghidupan kembali pasar-pasar yang pernah eksis sehingga lulusan Poltek dapat terserap sebagai tenaga kerja potensial,” imbuh Sutanto.

Audiensi dan diskusi tersebut diharapkan dapat memperkaya penyusunan rekomendasi kebijakan Tinjauan ke Depan Riset, Teknologi, dan Inovasi Ketenaganukliran Nasional. Kolaborasi antara unsur kebijakan, pendidikan, riset, dan teknologi dinilai penting untuk membangun ekosistem ketenaganukliran yang adaptif serta mampu menjawab kebutuhan pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. (dk,ksa,mr)