Yogyakarta – Humas BRIN. Bagi sebagian orang, kata ‘nuklir’ masih identik dengan bom, radiasi, dan sesuatu yang menakutkan. Pemahaman tersebut dijelaskan secara komprehensif dalam kunjungan siswa SMA Islam Al Azhar 15 Semarang ke Politeknik Teknologi Nuklir Inbdonesia (Poltek Nuklir) BRIN pada Selasa (29/9).
Halim Hamadi, dosen Poltek Nuklir dalam pemaparannya mengajak siswa untuk melihat nuklir bukan dari sudut pandang menakutkan, tetapi memahami apa itu nuklir, bagaimana radiasi berada di sekitar manusia, bagaimana teknologi nuklir dimanfaatkan, serta seperti apa peluang pendidikan di bidang tersebut.
“Banyak masyarakat yang masih memahami bahwa nuklir itu bom. Apakah kalian juga sama?,” ucapnya. Pertanyaan tersebut kemudian mengingatkan siswa pada berbagai peristiwa yang selama ini membentuk persepsi publik terhadap nuklir, seperti bom atom Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 serta kecelakaan nuklir Chernobyl dan Fukushima.
Dijelaskan oleh Halim, nuklir pada dasarnya berkaitan dengan reaksi yang berasal dari inti atom. Ketidakstabilan inti atom dapat menghasilkan energi yang dilepaskan. Pemahaman dasar tersebut penting agar masyarakat tidak berhenti pada gambaran nuklir sebagai bom atau sesuatu yang berbahaya.
“Radiasi tidak hanya berkaitan dengan peristiwa seperti bom atom maupun kecelakaan nuklir, tetapi juga terdapat secara alami di lingkungan sekitar. Radiasi bisa berasal dari sinar kosmik, batuan di bumi, hingga tubuh manusia sendiri. Radiasi ada di sekitar kita,” jelasnya.
Meskipun radiasi tidak dapat dilihat, dirasakan, didengar, maupun disentuh secara langsung, namun keberadaan radiasi dapat dideteksi dan diukur menggunakan instrumen. Penjelasan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman siswa bahwa keselamatan dalam pemanfaatan teknologi nuklir tidak didasarkan pada perkiraan, melainkan pada pengukuran dan penerapan prinsip keselamatan.
Terkait dengan nuklir dan kebutuhan energi, Halim menjelaskan bahwa saat ini konsumsi listrik Indonesia terus mengalami perubahan seiring pertumbuhan aktivitas masyarakat, industri, digitalisasi, hilirisasi, kendaraan listrik, hingga pusat data. Pada saat yang sama, sumber energi Indonesia saat ini masih didominasi oleh batu bara, disusul gas bumi dan sejumlah sumber energi lainnya
Ia menekankan bahwa masa depan energi kemungkinan membutuhkan kombinasi berbagai sumber energi, bukan bergantung pada satu sumber saja. Dalam konteks tersebut, energi nuklir melalui Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) diperkenalkan sebagai salah satu opsi dalam sistem energi.
Dalam kesempatan yang sama, Halim juga memperkenalkan tentang Poltek Nuklir sebagai perguruan tinggi vokasi yang secara khusus menyelenggarakan pendidikan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir.
“Poltek Nuklir memiliki tiga program studi, yaitu Teknokimia Nuklir, Elektronika Instrumentasi, dan Elektro Mekanika,” ungkapnya.
Rasa ingin tahu siswa semakin terlihat ketika sesi presentasi memasuki pembahasan mengenai sistem pendidikan. Salah satu siswa, Davin, bertanya mengenai perbedaan kurikulum Poltek Nuklir dengan universitas lainnya. “Apa perbedaan kurikulum politeknik dengan universitas lainnya?” tanya Davin.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Halim menjelaskan bahwa Poltek Nuklir memiliki jenjang Diploma 4 (D4) dengan pembelajaran yang lebih berorientasi pada praktik dibandingkan jenjang sarjana yang umumnya lebih menekankan aspek teori.
Penjelasan tersebut sejalan dengan materi presentasi yang menunjukkan tahapan pembelajaran mahasiswa Poltek Nuklir dari tahun pertama hingga tahun keempat. Proses pendidikan mencakup pengetahuan dasar, pengetahuan lanjutan, kompetensi nuklir, peminatan, hingga magang, proyek industri, sertifikasi, dan tugas akhir.
Tidak berhenti pada program studi dan sistem pembelajaran, siswa juga memperoleh informasi mengenai kehidupan kampus, fasilitas, prestasi, beasiswa, serta penerimaan mahasiswa baru.
“Pendidikan di Poltek Nuklir tidak hanya diarahkan pada penguasaan teori, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kompetensi praktik yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” terangnya.
Kunjungan diikuti sebanyak 61 siswa. Selain mendapatkan paparan materi, siswa juga diajak mengunjungi beberapa fasilitas laboratorium pendidikan yang ada di KSTE A. Baiquni Yogyakarta. (omi, tek, ksa/ed:mn)