Yogyakarta – Humas BRIN. Tim Fission dari Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN berhasil meraih posisi Runner-Up dalam ajang Global Virtual Student Challenge 2026 yang diselenggarakan pada Juli hingga Agustus 2026. Kompetisi internasional tersebut mengangkat tema “Build a Smart & Sustainable Uranium Mine” dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai negara.

Tim Fission terdiri dari Abraham Watubere, Allan Somamiharja, Bima Yudandi, dan Muhammad Alghibani, dengan Bidhari Pidhatika sebagai pembimbing tim. Keikutsertaan Tim Fission dalam kompetisi ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa Poltek Nuklir untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperluas wawasan mengenai pertambangan uranium yang cerdas dan berkelanjutan.

Prestasi tersebut menjadi capaian membanggakan bagi Tim Fission setelah berhasil menunjukkan pemahaman yang kuat terhadap tujuan tantangan serta komitmen untuk mempelajari peran pertambangan uranium dalam mendukung masa depan energi yang berkelanjutan dan rendah karbon.

Apresiasi atas capaian Tim Fission disampaikan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA). IAEA mengapreasiasi perwakilan Indonesia ini karena mampu mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam proyek yang disampaikan sekaligus mengomunikasikan gagasan secara efektif.

“Tim Anda menunjukkan pemahaman yang kuat mengenai tujuan tantangan dan komitmen yang jelas untuk mempelajari peran pertambangan uranium dalam mendukung masa depan energi yang berkelanjutan dan rendah karbon,” demikian apresiasi IAEA kepada Tim Fission.

Sebagai informasi, dalam kompetisi tersebut, Tim Fission menyajikan karya edukatif dengan memanfaatkan platform Minecraft untuk menggambarkan konsep inovasi pertambangan uranium. Pemilihan platform tersebut menjadi pendekatan kreatif untuk menyampaikan informasi mengenai pertambangan uranium kepada masyarakat, khususnya generasi muda, dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami.

Penilaian terhadap peserta tidak hanya dilakukan melalui video yang dikirimkan, tetapi juga melalui sesi presentasi dan question and answer (Q&A). Dalam tahap tersebut, Tim Fission kembali menunjukkan bahwa proyek yang dikembangkan merupakan hasil kerja kolaboratif seluruh anggota tim.

IAEA memberikan perhatian khusus terhadap video yang diproduksi Tim Fission. Para juri menilai pertimbangan terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan serta efektivitas komunikasi menjadi salah satu kekuatan utama dalam penyampaian proyek.

Selain penilaian teknis, peringkat akhir kompetisi juga ditentukan melalui pemungutan suara publik. Video Tim Fission berhasil memperoleh jumlah likes terbanyak dibandingkan seluruh tim finalis. Dukungan publik tersebut mengantarkan Tim Fission meraih posisi Runner-Up sekaligus menunjukkan kemampuan tim dalam menjangkau dan melibatkan audiens yang lebih luas.

Salah satu anggota Tim Fission, Allan Somamiharja, mengatakan bahwa capaian sebagai Runner-Up merupakan hasil dari usaha terbaik seluruh anggota tim. Menurutnya, proses mengikuti kompetisi memberikan pengalaman berharga dalam mengembangkan karya edukatif, berkoordinasi, serta menyampaikan inovasi di bidang pertambangan uranium melalui media yang kreatif.

“Tim Fission telah memberikan usaha terbaiknya, walaupun keluar sebagai Runner-Up. Kami memahami bagaimana membuat karya edukatif dengan platform Minecraft dengan sangat baik, bagaimana berkoordinasi dengan tim untuk membuat video edukatif tentang inovasi tambang uranium,” ujar Allan.

Hal senada disampaikan oleh pembimbing Tim Fission, Bidhari Pidhatika. Menurutnya, capaian terpenting dari kompetisi tersebut bukan semata-mata perolehan peringkat, melainkan proses pembelajaran yang dijalani mahasiswa dalam mengubah pengetahuan menjadi karya yang dapat dipahami oleh masyarakat dengan latar belakang pengetahuan yang beragam.

“Saya bangga karena Allan, Abraham, Alghibani, dan Bima mampu bekerja sama sebagai satu tim, membagi tugas, menyelesaikan video, serta mempertanggungjawabkan ide, gagasan, dan hasil kerja mereka dalam sesi presentasi dan tanya jawab dengan para panelis,” kata Bidhari.

Ia menambahkan, proses tersebut menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa untuk mentransfer pengetahuan yang telah dipelajari menjadi sebuah karya konkret dan mudah dipahami oleh masyarakat.

“Proses ini melatih mereka untuk mentransfer pengetahuan yang mereka pelajari menjadi karya konkret dan mudah dipahami oleh komunitas masyarakat dengan latar belakang pengetahuan yang luas dan bervariasi. Bagi saya, itulah capaian terpenting dari kompetisi ini,” lanjutnya.

Selanjutnya, Allan berharap karya yang dihasilkan Tim Fission dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus menghasilkan karya kreatif sekaligus berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Kami berharap dengan karya kami dapat memantik semangat anak bangsa untuk berkarya sekreatif mungkin demi meningkatkan pendidikan masyarakat Indonesia,” tambah Allan.

Keberhasilan Tim Fission dalam Global Virtual Student Challenge 2026 menunjukkan bahwa mahasiswa Poltek Nuklir tidak hanya memiliki kompetensi dalam bidang teknologi nuklir, tetapi juga mampu mengembangkan inovasi edukatif dengan memanfaatkan teknologi digital dan media kreatif.

Capaian tersebut sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk berkompetisi di tingkat internasional, mengasah kemampuan komunikasi dan kolaborasi, serta memperluas wawasan mengenai pemanfaatan teknologi nuklir dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan masa depan energi rendah karbon. (dk,kf)