Yogyakarta – Humas BRIN. Galeri Mahasiswa (GAMA) 2026 yang diselenggarakan Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, memperluas wawasan, sekaligus melihat peluang pemanfaatan teknologi nuklir bagi kebutuhan masyarakat dan industri. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kawasan Sains Teknologi dan Edukasi (KSTE) A. Baiquni, Babarsari, Yogyakarta, Rabu (26/8/2026).

Salah satu materi yang disampaikan dalam rangkaian GAMA 2026 mengangkat tema “When Science Meets Industry: Pelajaran dari Tesla untuk Masa Depan Teknologi Nuklir Indonesia” dengan gagasan utama “Sinergi Talenta Nuklir untuk Akselerasi Inovasi Berdampak”. Materi tersebut disampaikan oleh Yudisti Nur Hidayat, yang merupakan lulusan Poltek Nuklir.

Yudisti menjelaskan bahwa sinergi talenta nuklir merupakan kerja sama atau gerakan bersama dari sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang teknologi nuklir untuk mempercepat lahirnya inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, pengembangan teknologi nuklir tidak cukup hanya berhenti pada keberhasilan riset dan pencapaian teknis. Diperlukan ekosistem yang mampu menjembatani hasil riset menuju pemanfaatan dan adopsi oleh masyarakat maupun industri.

“Masalah terbesar inovasi bukan menciptakan teknologi, tetapi membuat teknologi diterima oleh dunia,” ujar Yudisti. Pembelajaran dari perjalanan inovasi Nikola Tesla menunjukkan bahwa keberhasilan teknologi turut dipengaruhi model bisnis, sumber pendanaan, serta kesiapan pasar.

Dalam konteks teknologi nuklir, terdapat tantangan berupa “Valley of Death”, yakni jurang antara hasil riset dan produk yang benar-benar digunakan masyarakat. Karena itu, diperlukan tahapan berkelanjutan mulai dari discovery, research, prototype, commercialization, industrial adoption, hingga public acceptance.

Yudisti juga menyoroti berbagai pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia yang tidak terbatas pada sektor energi. Teknologi nuklir telah dimanfaatkan dalam bidang pangan melalui teknik mutasi radiasi dan iradiasi pangan, bidang peternakan melalui analisis pakan, bidang kesehatan untuk diagnosis dan terapi, serta bidang industri melalui radiografi dan nuclear gauge.

Menurut Yudisti pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi nuklir memiliki ruang pengembangan yang luas untuk memberikan dampak langsung bagi masyarakat. “Pemanfaatan nuklir untuk energi juga memiliki potensi sebagai sumber energi berkelanjutan, meskipun masih menghadapi tantangan terkait keselamatan, keamanan, investasi, regulasi, serta penerimaan publik” imbuhnya.

Dalam paparannya, Yudisti menyampaikan bahwa Indonesia dapat menerapkan pendekatan bertahap (incremental adoption) dengan mengembangkan aplikasi teknologi nuklir yang paling siap dan memiliki manfaat langsung bagi industri serta masyarakat. Pendekatan ini dilakukan dengan membangun kapasitas sumber daya manusia, regulasi, dan kepercayaan publik secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, pengembangan teknologi nuklir membutuhkan keterhubungan antara pengetahuan, sumber daya manusia, kemampuan industri, regulasi, dan kepercayaan publik sebelum dapat diarahkan pada penerapan dalam skala besar.

GAMA 2026 tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan karya dan gagasan mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran untuk membangun perspektif bahwa inovasi harus mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata. Dengan demikian mahasiswa Poltek Nuklir didorong tidak hanya menjadi generasi yang menguasai aspek teknis teknologi nuklir, tetapi juga mampu memahami kebutuhan masyarakat dan industri. (dk, sor, foto: rbw)