Yogyakarta – Humas BRIN. Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan workshop inovasi dan kontribusi penelitian nuklir untuk kesehatan masyarakat yang diikuti oleh mahasiswa program doktoral Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta di kampus Poltek Nuklir BRIN Yogyakarta pada Rabu, (29/10) lalu.

Prof. Imam Kambali, peneliti sekaligus dosen Poltek Nuklir menjelaskan bahwa teknologi produksi radionuklida medis berbasis siklotron merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian Indonesia di bidang kedokteran nuklir. Menurutnya, teknologi ini mampu menghasilkan berbagai jenis radioisotop medis untuk diagnosis dan terapi kanker dengan efisien serta biaya yang lebih rendah dibandingkan metode konvensional.

“Teknologi siklotron memungkinkan kita menghasilkan berbagai jenis radioisotop medis dengan efisien dan biaya lebih rendah. Ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mandiri dalam teknologi kedokteran nuklir dan memperpanjang usia harapan hidup masyarakat,” ungkap Imam.

Ia menambahkan bahwa penguasaan teknologi ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, dimana inovasi sains dan teknologi menjadi pilar dalam meningkatkan kualitas hidup dan ketahanan nasional di bidang kesehatan.

Sementara itu Maria Christina Prihatiningsih, dosen Program Studi Teknokimia Nuklir Poltek Nuklir BRIN, menekankan pentingnya penerapan budaya keselamatan dalam seluruh kegiatan yang melibatkan sumber radiasi. Ia menjelaskan dasar proteksi radiasi yang menguraikan prinsip-prinsip utama keselamatan radiasi serta pentingnya kesadaran profesional di setiap level pekerjaan.

“Proteksi radiasi bukan hanya tentang angka batas dosis, tetapi tentang sikap profesional dan tanggung jawab moral. Keselamatan adalah budaya yang harus dibangun di setiap lini, mulai dari laboratorium hingga fasilitas produksi radioisotop,” tegasnya.

Maria mengingatkan bahwa faktor waktu, jarak, dan penahan merupakan konsep dasar proteksi radiasi yang wajib diterapkan untuk memastikan keselamatan pekerja dan masyarakat sekitar fasilitas nuklir.

Dari sisi riset inovatif, Meti Indrowati, dosen program Doktor Pendidikan IPA dari Universitas Sebelas Maret memaparkan terkait biokompatibilitas partikel nano dan radioisotop dalam riset diabetes. Biokompatibilitas menjadi salah satu kajian dasar dalam pemanfaatan partikel nano untuk penghantaran obat dan diagnosis sel beta pankreas menggunakan pendekatan molecular docking.

“Kami berupaya mengkaji pemanfaatkan partikel nano dan radioisotop secara biokompatibel agar dapat digunakan untuk diagnosis dan penghantaran obat yang lebih tepat sasaran tanpa menimbulkan efek toksik,” jelas Meti.

Hasil riset ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan terapi antidiabetes yang lebih aman, presisi, dan sesuai dengan karakteristik biologis tubuh manusia.

Sinergi Riset, Pendidikan, dan Keselamatan untuk Masa Depan Bangsa

Ketiga narasumber sepakat bahwa kemajuan riset dan teknologi nuklir harus didukung oleh kolaborasi kuat antara pendidikan IPA dan vokasi, riset terapan, serta penerapan prinsip keselamatan yang berkelanjutan.

Sulistyo Saputro, Ketua Program Studi S3 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) UNS menyampaikan apresiasinya atas sambutan yang diberikan Poltek Nuklir BRIN. “Kami sangat berterima kasih telah diterima dengan baik di Poltek Nuklir. Di program S3 Pendidikan IPA UNS, salah satu mata kuliah yang kami miliki adalah Nanoteknologi. Meskipun fokus riset kami lebih banyak diarahkan untuk memperoleh pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi nuklir dalam berbagai keperluan riset di bidang ilmu pengetahuan alam, kami berharap ilmu dan pemahaman tersebut dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Poltek Nuklir BRIN menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mencetak tenaga ahli di bidang nuklir, tetapi juga membangun generasi ilmuwan yang berintegritas dan berorientasi pada kemaslahatan manusia.

“Kami ingin mahasiswa melihat bahwa ilmu nuklir bukan sesuatu yang menakutkan. Dengan pendekatan yang tepat, justru teknologi ini bisa menjadi bagian penting dari solusi untuk kesehatan dan masa depan bangsa,” tutup Imam. (kf, dk, rnf/ed: mn)