Yogyakarta – Humas BRIN. Kesehatan gigi permanen memiliki peran penting dalam menunjang kualitas hidup manusia. Namun, insiden karies gigi dilaporkan terus meningkat secara global dalam tiga dekade terakhir. Anak-anak usia 5–9 tahun serta dewasa muda menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kondisi tersebut.
Karies gigi umumnya muncul tidak lama setelah erupsi gigi permanen. Pada tahap awal ini, gigi permanen biasanya belum matang dan masih memiliki ujung akar terbuka, sehingga proses pembentukan akar sangat bergantung pada kesehatan pulpa gigi untuk mendukung penutupan apikal secara optimal.
Dosen Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bidhari Pidhatika menjelaskan bahwa karies merupakan penyakit kronis multifaktorial yang menyebabkan demineralisasi jaringan keras gigi. Kondisi tersebut dapat berkembang hingga memicu paparan pulpa akibat progresi penyakit, tindakan perawatan, maupun trauma.
“Dalam kondisi tersebut, perawatan yang bertujuan mempertahankan vitalitas pulpa menjadi sangat penting untuk mendukung regenerasi jaringan dan proses penutupan apikal, terutama pada gigi permanen yang belum matang,” ujarnya pada Kamis, (5/3).
Melalui penelitian berjudul Gelatin/Chitosan Delivery System Improves Stability and Regenerative Potential of Ca(OH)₂ in an Open Dental Pulp Model, Bidhari bersama tim mengembangkan inovasi sistem penghantaran bahan perawatan gigi yang lebih efektif.
Penelitian ini mengembangkan sistem penghantaran kalsium hidroksida (Ca(OH)₂) berbasis gelatin-kitosan dengan penambahan tetraethyl orthosilicate (TEOS) sebagai crosslinker. Tujuannya adalah meningkatkan stabilitas sekaligus potensi regeneratif Ca(OH)₂ pada model pulpa gigi terbuka.
Dalam dunia kedokteran gigi, Ca(OH)₂ telah lama digunakan sebagai bahan yang mampu merangsang pembentukan jaringan keras dengan tingkat keberhasilan sekitar 90%. Senyawa ini bekerja dengan melepaskan ion hidroksil yang memberikan efek antibakteri sekaligus mendukung proses penyembuhan jaringan. Namun, kelarutannya yang tinggi membuat bahan ini membutuhkan aplikasi berulang sehingga kurang efisien dalam praktik klinis.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tim peneliti mengombinasikan Ca(OH)₂ dengan matriks gelatin-kitosan dan TEOS. Hasil penelitian menunjukkan komposit yang dihasilkan memiliki tingkat kelarutan lebih rendah dibandingkan Ca(OH)₂ konvensional, sehingga pelepasan ion kalsium dapat berlangsung lebih terkontrol. Struktur kimia material juga menjadi lebih stabil berkat terbentuknya jaringan silika dari TEOS yang memperkuat komposit tersebut.
Pada tahap uji praklinis menggunakan hewan, komposit gelatin/kitosan Ca(OH)₂/TEOS menunjukkan potensi dalam mendukung regenerasi pulpa gigi. Hal ini terlihat dari peningkatan ekspresi TGF-β1 serta kemampuan mendorong diferensiasi sel punca pulpa gigi menjadi sel mirip odontoblas yang berperan dalam pembentukan jaringan keras gigi.
Karakterisasi material juga menunjukkan bahwa komposit memiliki struktur lebih amorf dibandingkan Ca(OH)₂ murni dengan stabilitas kimia yang lebih baik. Uji pelepasan ion Ca²⁺ memperlihatkan bahwa komposit mampu mengontrol kelarutan ion kalsium secara signifikan dibandingkan bahan konvensional.
Meski demikian, Bidhari menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal sehingga memerlukan kajian lanjutan, terutama untuk mengevaluasi pembentukan jaringan keras, penutupan apikal, vitalitas gigi, serta sifat antimikroba secara lebih komprehensif.
“Temuan ini masih berada pada tahap awal regenerasi. Karena itu, diperlukan studi lanjutan untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam jangka panjang,” jelasnya.
Penelitian ini melibatkan kolaborasi lintas keahlian bersama Endytiastuti, Retno Ardhani, Yogi A. Swasono, Reza P. Rudianto, Juni Handajani, Ghadah A. Al-qatta, Iwa S.R. Sudarso, serta Fauzi Mh Busra. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pengembangan inovasi di bidang kesehatan gigi permanen.
Ke depan, inovasi ini diharapkan membuka peluang baru dalam pengembangan teknologi perawatan gigi, khususnya bagi anak-anak dan dewasa muda, agar gigi permanen dapat tetap sehat dan berfungsi optimal sejak dini. (tek,ksa/ed:ugi)
sumber: https://www.brin.go.id/news/127103/solusi-baru-perawatan-gigi-permanen-brin-kembangkan-sistem-penghantar-kalsium-hidroksida-lebih-stabil