Yogyakarta – Humas BRIN. Teknologi reaktor diperlukan untuk merealisasikan proses transmutasi buatan dari elemen nuklir, baik secara fisi/fusi dengan target utama sebagai sumber energi yang jauh lebih ramah lingkungan. Hal tersebut disampaikan Laksana Tri Handoko, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Fisika Kuantum, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN dalam kuliah tamu Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) pada Senin, (15/12) lalu.
“Bidang nuklir cukup kompleks. Sehingga meski pendidikan vokasi, mahasiswa Poltek Nuklir harus memiliki latar belakang keilmuan yang memadai untuk mampu mengatasi berbagai masalah keteknikan yang dihadapi kelak,” ungkapnya.
Dalam paparannya, Handoko menyampaikan prospek pemanfaatan teknologi nuklir Reaktor dan Akselerator di Indonesia.
“Reaktor merupakan tempat terjadinya reaksi fisi berantai secara terkendali. Neutron menabrak inti atom yang menyebabkan inti terbelah menjadi inti yang lebih kecil dan melepaskan energi serta neutron baru, kemudian menabrak neutron lainnya, sehingga terjadi reaksi berantai secara terkendali. Reaksi berantai yang tidak terkontrol itulah yang disebut bom atom,” jelasnya.
Dalam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), reaksi berantai dilakukan secara terkontrol. Sehingga, tantangan utamanya adalah mengendalikan reaksi berantai agar tetap stabil dan aman.
Selain reaktor, teknologi yang saat ini sedang berkembang adalah akselerator. Berbeda dengan reaktor, akselerator menggunakan listrik, sehingga jika akselerator dimatikan maka proses akan langsung berhenti dan mudah dikendalikan.
“Teknologi akselerator partikel diperlukan untuk mempercepat partikel bermuatan dengan memanfaatkan magnet yang sangat kuat, sehingga mencapai kecepatan dan energi yang tinggi untuk membentuk beam/berkas,” terangnya.
Berkas inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. “Sejak awal, akselerator didesain untuk tujuan non-energi seperti produksi radioisotop, terapi onkologi, riset berbasis spektrometri, riset fundamental (fisika energi tinggi), juga transmutasi (mutasi genetika, pengolahan limbah),” tambah Handoko.
Beberapa jenis teknologi nuklir berbasis akselerator diantaranya adalah akselerator untuk pengolahan limbah nuklir, akselerator untuk produksi radioisotop guna kebutuhan terapi dan pencitraan medis, juga akselerator untuk mempercepat ion sehingga memiliki energi kinetik sangat tinggi.
“Akselerator untuk pengolahan limbah nuklir memanfaatkan prinsip Accelerator Driven System (ADS) untuk memicu reaksi fisi dari transmutasi isotop limbah nuklir dengan radioaktivitas tinggi dan waktu paruh panjang, menjadi isotop yang lebih stabil atau waktu paruh lebih pendek. Mengurangi volume limbah dan memudahkan penyimpanan. Dapat diintegrasikan dengan ASN PLTN karena sekaligus menghasilkan energi,” jelas Handoko.
Untuk kebutuhan terapi dan pencitraan medis umumnya memanfaatkan siklotron / linac (akselerator linier) untuk menghasilkan neutron-deficient radioisotope, yang didesain khusus untuk produksi radioisotop, dibandingkan dengan produk sampingan di reaktor nuklir.
Selain itu, siklotron hampir tidak menghasilkan limbah nuklir, memiliki skala kecil dan ringkas sehingga bisa dipasang di banyak lokasi (apalagi waktu paruh radioisotop relatif pendek), serta minim risiko (transportasi, bahaya rendah, tidak terkena regulasi terkait senjata nuklir, teroris).
Lebih lanjut Handoko menyampaikan, setelah pembentukan BRIN pada tahun 2021, fokus utama BRIN adalah menghadirkan negara untuk memperkuat komunitas dan ekosistem riset dan inovasi, khususnya sektor ketenaganukliran.
“BRIN membuka peluang penguatan kehadiran negara melalui pembentukan beragam strategi yaitu integrasi SDM periset lintas disiplin sebagai modal utama aktivitas riset dan inovasi, integrasi infrastruktur pendukung riset dan inovasi secara berkelanjutan, manajemen skema fasilitas dan pendanaan multi sumber untuk mendukung aktivitas riset dan inovasi tahun jamak, serta tata kelola riset dan inovasi berbasis meritokrasi,” ungkapnya.
Handoko berharap, Poltek Nuklir dapat berorientasi global karena sektor ketenaganukliran bersifat universal, sehingga kompetisi juga bersifat global dan peluang berkarir terbuka luas. “Jadikan KSTE A. Baiquni sebagai pengembangan kapasitas SDM global juga regional untuk memotivasi mahasiswa Poltek Nuklir memiliki wawasan global sejak dini. Berikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan komunitas global untuk membuka jejaring dan cakrawala pergaulan,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Direktur bidang Akademik Poltek Nuklir Sutanto dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan kuliah tamu merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan Poltek Nuklir dalam rangka meningkatkan wawasan dan pengetahuan mahasiswa secara luas. “Kuliah tamu kali ini kita mengangkat tema terkait dengan kemanfaatan reaktor dan akselerator di bidang kenukliran. Hal tersebut termasuk bidang utama di Poltek Nuklir. Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk menambah wawasan dan pengetahuan saudara sekalian,” ungkapnya. (tek/ed:mn)