Yogyakarta — Humas BRIN. Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Workshop Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi pada Selasa (16/12). Kegiatan ini berlangsung di Ruang Kelas Omega Lantai VII, Student Tower Kawasan Sains dan Teknologi (KSTe) Ahmad Baiquni BRIN, Yogyakarta, dan diikuti oleh dosen serta tenaga kependidikan dari berbagai unit kerja di lingkungan BRIN.

Workshop ini diselenggarakan sebagai respons terhadap pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial yang semakin memengaruhi dunia pendidikan tinggi dan riset. Poltek Nuklir BRIN memandang perlu adanya pemahaman yang komprehensif mengenai pemanfaatan AI agar teknologi ini dapat digunakan secara optimal untuk mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Direktur Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia, Zainal Arief, dalam sambutannya menyampaikan bahwa AI merupakan teknologi strategis yang tidak dapat dihindari dalam transformasi pendidikan tinggi. Menurutnya, AI dapat menjadi alat bantu yang efektif untuk meningkatkan kualitas proses akademik apabila dimanfaatkan secara bijak, terukur, dan berlandaskan etika ilmiah. “Penguatan literasi AI bagi sivitas akademika menjadi penting agar teknologi ini benar-benar mendukung mutu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujarnya.

Sebagai narasumber utama, Poltek Nuklir BRIN menghadirkan Dr. Irwanto, S.Pd., M.Pd., dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dalam paparannya, Irwanto membahas secara mendalam pemanfaatan berbagai perangkat AI dalam penulisan akademik, kegiatan penelitian, serta proses pembelajaran di perguruan tinggi. Ia menjelaskan bahwa AI memiliki potensi besar untuk membantu dosen dan peneliti, mulai dari penyusunan kerangka tulisan ilmiah, analisis data penelitian, hingga pengembangan bahan ajar yang lebih interaktif.

Irwanto juga mengulas berbagai temuan riset internasional yang menunjukkan meningkatnya penggunaan AI dalam dunia akademik. Sejumlah studi global yang ditampilkan dalam materi menunjukkan bahwa AI banyak dimanfaatkan untuk membantu penyusunan abstrak, penyuntingan bahasa, pencarian jurnal, hingga pendampingan pembelajaran. Namun demikian, temuan tersebut sekaligus menegaskan adanya kesenjangan pemahaman dan praktik penggunaan AI, khususnya di kalangan akademisi dari negara non-berbahasa Inggris, yang berpotensi memunculkan persoalan integritas ilmiah apabila tidak diiringi literasi dan pengawasan yang memadai.

Lebih lanjut, Irwanto menyoroti berbagai risiko penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab, seperti potensi plagiarisme, munculnya informasi palsu atau AI hallucination, serta ketidakakuratan referensi ilmiah. Ia juga menampilkan contoh kasus artikel ilmiah yang harus ditarik kembali (retracted) akibat pelanggaran etika publikasi. Melalui contoh tersebut, peserta diajak memahami bahwa AI perlu dibatasi pada fungsi pendukung, seperti penyuntingan bahasa dan eksplorasi ide awal, bukan sebagai sumber utama pengetahuan ilmiah.

“AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti peneliti atau pendidik. Tanggung jawab akademik tetap berada pada manusia,” tegas Irwanto. Ia menekankan pentingnya kejujuran akademik, transparansi dalam mengungkap penggunaan AI, serta kepatuhan terhadap pedoman etika publikasi internasional.

Melalui kegiatan ini, Poltek Nuklir BRIN berharap sivitas akademika memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi transformasi digital di bidang pendidikan dan riset. Pemanfaatan AI secara etis dan tepat guna diharapkan dapat memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan produktivitas riset, serta mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir yang berkelanjutan.(am/kf)