Yogyakarta – Humas BRIN. Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) resmi memulai mata kuliah Metodologi Penelitian untuk mahasiswa semester enam guna membekali peserta didik strategi riset di era industri 4.0 saat ini. Kuliah ini menghadirkan narasumber Laksana Tri Handoko yang merupakan Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN di Ruang Auditorium KSTE A. Baiquni Babarsari pada Senin, (23/2).
Dalam sesi tersebut, mahasiswa diberikan pemahaman terkait transisi industri dan pentingnya riset sebagai fondasi inovasi di era Industri 4.0. “Era Industri 4.0 bukan sekadar transformasi teknis, melainkan perubahan perilaku bisnis yang mendorong kolaborasi intensif antara industri dan riset,” terang Handoko dalam paparannya.
Menurutnya pada era disruptive innovation saat ini penguasaan teknologi kunci jauh lebih krusial dibandingkan sekadar modal finansial. “Teknologi kunci memiliki siklus yang singkat dan siklus hidup produk semakin pendek, serta prediksi pengembangan produk menjadi semakin kompleks. Kita perlu berpikir bagaimana ide kita dapat diterima dan dipahami orang lain,” paparnya.
Fokus utama yang harus dibangun dalam menghadapi disruptive innovation yaitu kapasitas dan kompetensi dalam menciptakan teknologi kunci, lingkungan yang ramah inovasi, diferensiasi produk guna meminimalisir risiko dan kemitraan strategis berbasis relasi saling menguntungkan. Contoh pola baru yang dipaparkan meliputi pengembangan teknologi BNCT (Boron Neutron Cancer Therapy), inovasi produk pangan berbasis komputasi dinamika fluida, hingga kolaborasi riset global seperti partisipasi Indonesia dalam eksperimen ALICE CERN.
Handoko menekankan bahwa riset ilmiah bukan sekadar pencarian informasi, melainkan sebuah proses sistematis untuk memproduksi Kekayaan Intelektual (KI) yang memiliki kebaruan (invention) dan potensi manfaat (innovation). “Riset ilmiah melalui tahapan pencarian masalah, eksplorasi solusi, seleksi kelayakan, hingga sintesa dan pembuktian,” imbuh Handoko.
Aktivitas riset merupakan proses pencarian invensi memakai metode ilmiah baku yang dapat diverifikasi oleh pihak lain. Keluaran riset tidak hanya berupa karya tulis ilmiah, tetapi juga paten, hak cipta, dan desain sirkuit terpadu, yang menjadi bukti sahih atas klaim invensi yang diakui komunitas ilmiah. “Seorang periset disebut sebagai problem solver sekaligus produsen kekayaan intelektual,” jelasnya.
Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami metodologi penelitian secara teoritis, tetapi juga mampu memosisikan diri sebagai calon inovator yang siap berkontribusi dalam ekosistem riset dan industri berbasis teknologi di masa depan. (dk, mr, ksa)