Humas Poltek – Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) mengadakan kegiatan Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru secara daring kepada SMA ‘Aisyiyah Boarding School, Malang (11/05). Kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan siswa untuk lebih mengenal nuklir. Citra nuklir di mata masyarakat Indonesia sering kali masih identik dengan senjata pemusnah massal atau bencana besar seperti Chernobyl. Namun, hingga tahun 2026 ini, edukasi mengenai manfaat positif nuklir terus digencarkan untuk mengubah stigma negatif tersebut menjadi pemahaman akan potensi teknologi yang berkelanjutan.
Halim Hamadi, yang merupakan salah satu Dosen di Poltek Nuklir, menekankan bahwa nuklir di Indonesia secara tegas tidak diperuntukkan bagi senjata. “Sebaliknya, teknologi yang berasal dari reaksi inti atom ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai sektor kehidupan strategis di tanah air” terangnya.
Masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa radiasi nuklir sebenarnya ada di sekitar kita secara alami. Matahari, misalnya, merupakan reaktor alam terbesar yang radiasinya kita terima setiap hari (radiasi kosmik). Selain itu, batuan bumi (radiasi teresterial) hingga tubuh manusia sendiri (radiasi interna) secara alami memancarkan radiasi. “Meskipun tidak dapat dilihat, dirasakan, didengar, atau disentuh, keberadaan nuklir dapat dideteksi dan diukur dengan akurasi tinggi” ungkap Halim.
Salah satu kontribusi nyata teknologi nuklir adalah pada sektor pertanian melalui Teknik Mutasi Radiasi. Dengan menggunakan radiasi Gamma, para peneliti mampu menginduksi mutasi pada materi genetik tanaman pangan untuk menciptakan keanekaragaman hayati, yang kemudian dipilih sifat unggulnya untuk meningkatkan kualitas panen.
Selain itu, nuklir menawarkan solusi pengawetan makanan yang lebih sehat dibandingkan metode konvensional. Berbeda dengan penggunaan bahan pengawet kimia yang berisiko menyebabkan penyakit seperti kanker dalam jangka panjang, teknologi nuklir mampu menjaga daya tahan pangan tanpa mengubah rasa atau tekstur secara drastis.
Di bidang medis, teknologi nuklir telah lama digunakan untuk teknik diagnosa dan terapi, mulai dari penggunaan Thyroid Uptake, Renograf, Kamera Gamma, hingga Pesawat Sinar-X dan Radiofarmaka.
Sementara itu, di sektor energi, perbandingan efisiensi antara Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan pembangkit konvensional sangat kontras. Untuk menghasilkan listrik sebesar 1.000 MWe, sebuah pembangkit membutuhkan sekitar 2,1 juta ton batu bara atau 10 juta barel minyak, sedangkan PLTN hanya membutuhkan 33 ton bundel bahan bakar Uranium. Indonesia bahkan mulai melirik potensi Floating Nuclear Power Plant yang mampu menyediakan hingga 70 MW listrik atau 300 MW panas.
Melalui penguatan ekosistem industri nuklir ini, diharapkan masyarakat tidak lagi merasa takut, melainkan mampu melihat nuklir sebagai instrumen penguatan solidaritas dan integrasi sosial melalui kemajuan teknologi nasional (dk/mr/ksa).